STIKI/STIE Indonesia makassar



STIKI/STIE Indonesia makassar

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIKI/STIE) Indonesia Makassar, melangsungkan sidang terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-43.

STIE Indonesia Makassar Kukuhkan 106 Wisudawan, Segini Nilai Peraih IPK Tertinggi

Bertepatan dengan itu, turut pula dilaksanakan wisuda terhadap mahasiswa/mahasiswi Strata 1 (S1) yang ke-33.

Sidang terbuka ini dilaksanakan di Hotel Swissbelinn Hotel Panakkukang, Rabu (4/12/2019).

Jumlah itu terdiri dari jurusan Manajemen dan Akuntansi STIKII/STIE Indonesia Makassar.

“Jadi total seluruh lulusan sejak wisuda pertama 43 tahun lalu sebanyak 14.786,” imbuh Dr Maryani ditemui usai prosesi wisuda.

Adapun untuk wisudawan/wisudawati terbaik, tidak disebutkan saat prosesi wisuda.

Namun Maryani menambahkan, ada dua wisudawan yang memperoleh nilai terbaik.

Mereka yang mendapat predikat wisudawan terbaik mendapat penghargaan.

Diantaranya sertifikat dan pelajar atas pencapaiannya.

“Wisudawan terbaik dengan IPK 3,98 jurusan manajemen, dan 3,97 untuk jurusan akuntansi,” paparnya.

Kampus seyogyanya bisa menciptakan alumni yang memilki daya saing. Alumni Perguruan Tinggi diharpakan dapat memiliki pola pikir bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX, Sulawesi dan Gorontalo, Prof. Dr. Jasruddin, M.Si dalam sambutan wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi / Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Indonesia (STIKI) Makassar, Rabu (4/12/2019) di Ballroom Swiss Bell Hotel.

Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM) ini mendorong STIE/STIKI Makassar agar mereorientasi kurikulumnya dengan menentukan target pasar.

“Harapan saya STIE/STIKI Makassar dapat mengeluarkan alumni yang dapat berpartisipasi menciptakan start up baru. Ini merupakan peluang bisnis modern 4.0. Kurikulum direorientasi sesuai keinginan dan tuntutan pasar,” ujarnya kepada berita-sulsel.com.

Prof. Jasruddin juga menerangkan, bahwa kalau dulu dunia tidak selebar daun kelor, sekarang sudah terbalik. Dunia ini sudah sempit dengan kemajuan teknologi, apapun bisa terjadi.

“Orang tidak bisa mengatakan hanya dapat sukses jika berkarir di daerahnya. Dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi, dimanapun kita bisa sukses. Sekalipun tidak di Indonesia silahkan keluar negeri,” tuturnya.